Jumat, 03 Februari 2012

Pemenuhan Kebutuhan Zat Gizi Mikro Pada Anak

Salah satu solusi menangani masalah zat gizi adalah menerapkan Gizi Seimbang.
Intisari-Online.com – Nutritalk merupakan forum bincang gizi yang secara periodik dilaksanakan oleh Sari Husada untuk wartawan dengan menghadirkan pakar kesehatan dan gizi. Kali ketiga ini, Nutritalk mengangkat tema “Gizi Lintas Generasi – Tantangan Gizi Anak Dulu, Kini dan Nanti.”
Melongok ke masa lalu, ternyata isu gizi bangsa berawal pada masa penjajahan Jepang, ketika terjadi kekurangan pangan yang parah sehingga muncul busung lapar di mana-mana. Kemudian pada masa Orde Lama (1950-an) mulai timbul masalah pertanian yang saat itu menjadi “hidup mati bangsa” karena pola konsumsi masyarakat sangat tergantung pada sektor pertanian. Beranjak ke masa Orde Baru, masyarakat Indonesia masih terbelenggu dalam empat masalah gizi utama, yaitu Kekurangan Kalori dan Protein (KKP), Kekurangan Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan Anemia Gizi Besi (AGB). Pada masa ini kemudian dibentuk “Usaha Perbaikan Menu Makanan Rakyat” berupa upaya untuk lebih menganekaragamkan jenis konsumsi dan meningkatkan gizi makanan rakyat, baik kualitas maupun kuantitas. Di masa reformasi, isu gizi yang marak timbul adalah masalah kekurangan gizi mikro (hidden hunger), menyangkut defisiensi besi, yodium, asam folat, vitamin A, dan beberapa jenis vitamin B.
Rendahnya asupan gizi mikro menyebabkan tingginya kasus penyakit akibat kurang zat gizi mikro (KGM). Dampaknya, di banyak negara terlihat bahwa KGM dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak, penyakit akibat infeksi, menurunkan kecerdasarn anak, serta produktivitas kerja. Di negara berkembang, umumnya prevalensi KGM sebesar 50-60%, dengan 9% angka kematian anak dan 13% kematian ibu disebabkan karena kekurangan vitamin A (KVA). Sementara data tahun 2004 menunjukkan 10 juta anak balita di Indonesia kurang vitamin A. Sekitar 18% kematian ibu melahirkan dan 24% kematian perinatal disebabkan anemia dan defisiensi zat besi. Kekurangan yodium merupakan penyebab umum retardasi mental dan kerusakan fungsi otak di berbagai negara di dunia.
Asupan gizi sangat terkait dengan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor.
  • Pertama adalah pola asuh, yaitu budaya, preferensi, dan nilai yang dipegang oleh keluarga. Hal ini meliputi pemberian ASI/MPASI, pola asuh psikososial, penyediaan makanan sapihan, praktik higinitas, sanitasi makanan dan kesehatan lingkungan. 
  • Faktor kedua adalah kondisi tubuh atau kerentanan terhadap penyakit infeksi. 
  • Faktor ketiga, adalah tingkat ekonomi. Tingkat kemiskinan di Indonesia menurut data tahun 2005 masih mencapai 18,1% dari total populasi penduduk, yang pada akhirnya sangat berpengaruh pada faktor pertama dan kedua tadi.
Salah satu solusi untuk menangani masalah gizi adalah dengan menerapkan Gizi Seimbang (GS). GS adalah anjuran makan dan minum untuk memenuhi kebutuhan gizi secara umum dengan prinsip: beragam, hidup bersih, aktivitas, dan pengendalian berat badan.
Dewasa ini muncul salah satu solusi lain yang lebih modern dalam menangani masalah gizi, tepat dan murah, yaitu dengan fortifikasi, suatu upaya meningkatkan mutu gizi bahan pangan dengan sengaja menambahkan satu atau lebih zat gizi mikro, seperti vitamin dan mineral pada bahan pangan atau produk pangan.

Fortifikasi bertujuan untuk melengkapi atau menambah komponen gizi yang tidak ada dalam rangka perbaikan gizi masyarakat. Misalnya, program fortifikasi melalui makanan pendamping ASI (MPAS) balita dengan menggunakan produk taburan. Bubuk campuran berbagai vitamin dan mineral yang dikemas dalam sachet ini cara penggunaannya cukup ditaburkan di produk pangan balita (MPAS) siap saji. Dengan penambahan bubuk taburan ini, produk pangan sudah difortifikasi. Diharapkan program ini mampu mencukupi kebutuhan zat gizi mikro bagi balita keluarga miskin.

Kebutuhan Gizi & Kecerdasan Ana

JAKARTA (Media): Penelitian membuktikan ada keterkaitan antara tubuh pendek dan tingkat kecerdasan. Bila sejak awal sudah tidak ada keseimbangan berat dan tinggi badan, maka akan berpengaruh pada pembentukan otak. Karena itu, kebutuhan gizi bayi sejak janin sampai usia lima tahun harus terpenuhi secara baik. Kepala Seksi Standardisasi, Subdit Gizi Mikro, Direktorat Gizi pada Ditjen Kesehatan Masyarakat Depkes dr Atmarita menegaskan hal tersebut di Jakarta, kemarin, di sela-sela Kongres Nasional XII dan temu ilmiah Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) yang berlangsung hingga Rabu (10/7).
Menurut Atmarita, anak yang perkembangannya sangat lambat disebabkan oleh pembentukan otak maupun tubuhnya tidak baik akibat gizinya buruk. “Berarti hal paling penting adalah pemenuhan gizi bayi sejak dalam kandungan sampai berusia lima tahun, dan bila tidak terpenuhi, pertumbuhan otak dan tubuhnya tidak bagus. Anak dengan tubuh pendek, ia mengemukakan, berarti status gizi pada masa lalunya sudah kronis,” jelas Atmarita. Namun begitu, lanjutnya, sampai usia 18 tahun pun asupan gizi masih penting untuk pertumbuhan fisik anak. Jadi jika tubuh seseorang kurus, Atmarita menilai, hal ini dipengaruhi oleh keadaan gizi pada saat itu.
Bersama rekannya, dr Robert L Tiden, pakar gizi tersebut menganalisis masalah gizi di perkotaan yang dikaitkan dengan tinggi badan anak baru masuk sekolah. Atmarita mengatakan, 62% lebih anak di perkotaan memiliki tinggi badan normal dari segi umur, sedangkan anak di pedesaan hanya 49%. Maka disimpulkan bahwa anak di perkotaan memiliki keadaan gizi lebih baik dibanding anak di pedesaan. Meski demikian, obesitas (gemuk sekali) pada anak di perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding anak buy antibiotics online no prescription di pedesaan. Cuma, masalah itu mulai meningkat bukan saja di perkotaan, melainkan juga di pedesaan.
Atas dasar tersebut, Atmarita menegaskan, program perbaikan gizi sekarang harus diubah dengan memerhatikan faktor yang terkait dengan pola hidup penduduk di perkotaan maupun pedesaan. Sebelumnya, Menkes Achmad Sujudi dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Staf Ahli Menkes Bidang Desentralisasi dan Kelembagaan Dini Latief merasa prihatin karena proporsi anak pendek di Indonesia masih cukup tinggi. “Saya yakin, para ahli gizi mengetahui situasi ini karena di tiap wilayah telah difasilitasi dengan pemantauan status gizi,” ulasnya.
Ia menambahkan sudah banyak penelitian yang menyimpulkan pentingnya gizi untuk meningkatkan kemampuan belajar dan mengikuti pendidikan sampai tingkat tertinggi. Menkes mengutip pula sejumlah studi di Filipina, Jamaika, dan negara lainnya yang membuktikan, adanya hubungan yang sangat bermakna antara tinggi badan dan kemampuan belajar. Bahkan, ujarnya, dihasilkan bahwa pemberian makanan tambahan pada anak bertubuh pendek berusia 9-24 bulan akan mampu meningkatkan kemampuan belajar anak ketika berusia 7-8 tahun. Dibuktikan pula dari beberapa studi bidang ekonomi di Ghana maupun Pakistan mengenai pentingnya gizi untuk mendukung pembangunan. “Malah dengan menurunkan prevalensi anak pendek sebesar 10%, akan dapat meningkatkan 2%-10% proporsi anak yang mendaftar ke sekolah.” (Rse/V-4).
Sumber:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0208/04/Iptek/kili22.htm

Read more: http://doktersehat.com/kebutuhan-gizi-kecerdasan-anak/#ixzz1lO2Wkxij

Kebutuhan Gizi Ibu Hamil Part 1

May 23, 2010 No Comments by
Kebutuhan gizi pada masa kehamilan berbeda dengan masa sebelum hamil, peningkatan kebutuhan gizi hamil menurut Huliana (2001) sebesar 15 persen, karena dibutuhkan untuk pertumbuhan rahim, payudara, volume darah, plasenta, air ketuban dan pertumbuhan janin.
Penambahan kebutuhan gizi selama hamil antara lain meliputi:
  1. Kalori.
  2. Protein.
  3. Lemak.
  4. Karbohidrat.
  5. Vitamin.
  6. Mineral.

Kalori
Tambahan kalori selama hamil digunakan bagi janin maupun aktivitas ibu. Banyaknya kalori yang dibutuhkan hingga melahirkan sekitar 80.000 Kkal atau membutuhkan tambahan 300 Kkal sehari. Menurut Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI 2004 tambahan kalori yang dibutuhkan sekitar 300 Kkal per hari.
Kebutuhan kalori tiap trimester antara lain:
  1. Trimester I, kebutuhan kalori meningkat secara minimalis.
  2. Trimester II, kebutuhan kalori akan meningkat untuk kebutuhan ibu yang meliputi penambahan volume darah, pertumbuhan uterus, payudara dan lemak.
  3. Trimester III, kebutuhan kalori akan meningkat untuk pertumbuhan janin dan plasenta.
Protein
Penambahan protein selama kehamilan tergantung kecepatan pertumbuhan janinnya. Kebutuhan protein pada trimester I hingga trimester II kurang dari 6 gram tiap harinya, sedangkan pada trimester III sekitar 10 gram tiap harinya. Menurut Widyakarya Pangan dan Gizi VI 2004 menganjurkan penambahan 17 gram tiap hari. Kebutuhan protein bisa didapat dari nabati maupun hewani. Sumber hewani seperti daging tak berlemak, ikan, telur, susu. Sedangkan sumber nabati seperti tahu, tempe dan kacang-kacangan.
Protein digunakan untuk:
  1. Pembentukan jaringan baru, baik plasenta dan janin.
  2. Pertumbuhan dan diferensiasi sel.
  3. Pembentukan cadangan darah.
  4. Persiapan masa menyusui.
Lemak
Lemak dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan janin selama dalam kandungan sebagai kalori utama. Lemak merupakan sumber tenaga dan untuk pertumbuhan jaringan plasenta. Selain itu, lemak disimpan untuk persiapan ibu sewaktu menyusui. Kadar lemak akan meningkat pada kehamilan tirmester III.
Karbohidrat
Sumber utama untuk tambahan kalori yang dibutuhkan selama kehamilan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin adalah karbohidrat. Jenis karbohidrat yang dianjurkan adalah karbohidrat kompleks seperti roti, serelia, nasi dan pasta. Karbohidrat kompleks mengandung vitamin dan mineral serta meningkatkan asupan serat untuk mencegah terjadinya konstipasi.
Referensi
docstoc.com/docs/16106147/Gizi-ibu-hamil diunduh 21 Mei 2010, 09:30 PM
Francin, P. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. EGC, Jakarta, 2005.
gizikuseimbang.blogspot.com/2009/03/gizi-seimbang-bagi-wanita-hamil.html diunduh 21 Mei 2010, 06:46 PM
lenteraimpian.wordpress.com/2010/03/17/gizi-seimbang-ibu-hamil/ diunduh 22 mei 2010, 12:21 AM
scribd.com/doc/6223587/Kebutuhan-Zat-Gizi-Sepanjang-Daur-Kehidupan-Manusia diunduh 21 Mei 2010, 06:49 PM
Sophia, E. 2009. Kebutuhan Gizi Ibu Hamil. medicastore.com/artikel/268/Kebutuhan_Gizi_Ibu_Hamil.html diunduh 21 Mei 2010, 09:21 PM
Wiryo, H. 2002. Peningkatan Gizi Bayi, Anak, Ibu Hamil dan Menyusui dengan Bahan Makanan Lokal. Jakarta: Sagung Seto.